Unhas Sayang Unhas Malang

Unhas Sayang Unhas Malang

Unhas atau singkatan dari Universitas Hasanuddin walau sering diterpa pelbagai isu yang tidak sedap dan bahkan cenderung mendiskreditkan kampus kebanggaan masyarakat Makassar ini, namun tetap saja berbenah melalui berbagai macam program serta gebrakan.

Tak bisa dipungkiri bahwa Unhas telah menjadi kiblat bagi univearsitas lain khususnya di wilayah timur Indonesia. Banyak mahasiswa Unhas datang dari bebagai daerah sekitar Makassar.

Read More

Cerita Blogger Rusia Yang Selamat dari Kecelakaan Sukhoi

Sergey Dolya membatalkan rencananya bergabung pada joy flight kedua Sukhoi Superjet 100. Selamat dari maut, Dolya mengisahkan SSJ100.

“Saya banyak bepergian dan memotret,” tulis Sergey Dolya pada blog pribadinya.

Ketika pesawat malang SSJ 100 terbang kali kedua, Dolya tidak ikut di dalamnya. Dia memilih tinggal di Lanud halim untuk memotret pesawat Rusia itu lepas landas. Keputusan terbaik dalam hidupnya.

Sergey lalu memuat kisah perjalanannya dalam blog LiveJournal. Blog ini kini menjadi populer setelah peristiwa kecelakaan SSJ 100 di Gunung Salak.

Dolya membagi kisah indah terbang bersama SSJ 100. Perjalanannya bersama Sukhoi melewati tiga negara; Kazakhstan, Pakistan, dan Myanmar. Blogger Rusia ini membagi pula perjalanannya melintasi ekuator. Tawa dan canda terlihat dalam pesawat sebelum berakhir nahas.

Selama persimpangan khatulistiwa, mereka menggelar perayaan Neptunus. Dolya berjalan dalam pesawat dengan bertelanjang dada, mengenakan jenggot putih palsu, dan memegang trisula. Pada 8 Mei itu Dolya memajang fotonya berkostum Neptunus. Bahkan, pilot pesawat pun tampak tertawa dan memotret tingkah kocak Dolya. Semua berpesta dengan disuguhi sampanye saat itu.   
 
Dolya memamerkan pertemuannya dengan “selusin pramugari lokal” ketika tiba di Indonesia. Dia merasa bingung ketika dikelilingi orang-orang yang berbincang dengan bahasa Indonesia.

Setelah bersenang-senang dengan Sukhoi, Dolya menerima kabar buruk mengenai SSJ 100 yang hilang kontak. Perkembangan informasi mengenai pesawat itu pun ditulisnya pada akun Twitter @dolyasergey. Dia terus mengabarkan hingga proses evakuasi.

Bantah Isu

Pada blognya, Dolya juga membantah diskusi pada forum Airliners.net mengenai tombol Sistem Perkiraan Peringatan Dini yang mati.

Foto yang dimuat Dolya memperlihatkan tombol peringatan bahaya pada SSJ100 dalam posisi mati (off). Dolya pun memberikan klarifikasi pada 12 Mei 2012.
  
Foto yang dia ambil itu tercatat waktu: 5 jam 45 menit 53 detik hingga 29 detik. Sementara tombol yang tampak mati itu mulai menyala pada 5 jam 45 menit dan 24 detik. Superjet dirancang sedemikian rupa sehingga dalam waktu kisaran 35 detik baru tombol menyala. Sistem ini seperti menyalakan PC yang tidak dapat langsung hidup seketika.

Menurut Dolya, indikator tombol menyala ini persoalan standar untuk 35 detik pertama. Pada foto yang diambil 9 jam 7 menit dan 22 detik sebelum demonstrasi terbang yang kedua, terlihat jelas tombol itu telah diaktifkan.
Kabar 140 karakter senantiasa diperbaruinya dengan terus memantau informasi seputar pesawat malang Sukhoi Superjet 100. Kini waktu Dolya disibukkan untuk menulis status terbaru pada akun Twitter-nya. Bahkan, Dolya menulis dia tidak punya waktu menulis panjang di blog.

“Ini tidak ditulis dalam waktu yang lama. Tidak ada waktu. Semua informasi terbaru tentang saya ada di Twitter,” tulisnya pada Sergeydolya.livejournal.com. Sumber berita baca
disini! Semoga bermanfaat.

Indonesia Banget – qflee

Read More

Pendidikan Indonesia, PR Bersama

PBB mengategorikan Indonesia sebagai negara yang mampu mencapai target kedua program education for all-nya UNESCO, yaitu pendidikan dasar yang universal sebelum 2015.

Namun, ini tak berarti kita dapat berpuas hati. Isu kecurangan dalam ujian nasional (UN) yang selalu diperbincangkan setiap tahun, misalnya, dapat menjadi tolak ukur jalannya keseluruhan sistem pendidikan Indonesia yang masih jauh dari sempurna. Penugasan anggota kepolisian dan penggunaan kamera pemantau guna mengawasi jalannya UN di sekolah-sekolah, suatu hal yang tak pernah terjadi di negara lain, menunjukkan adanya ketidakpercayaan publik akan sistem dan kualitas pendidikan Indonesia.

Empat isu pokok

Sekurang-kurangnya ada empat hal yang bisa diperbaiki guna meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Pertama, berhubungan dengan akses dan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud di sini tidak hanya mencakup sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekolah.

Dalam kaitan ini pemerintah harus dapat menyediakan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai agar anak dapat bersekolah dengan nyaman. Kasus anak-anak di Banten yang harus menantang maut, menyeberangi jembatan yang runtuh di atas arus Sungai Ciberang yang deras agar bisa sekolah, tak boleh lagi terjadi. UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan yang layak dan negara dalam hal ini berkewajiban memenuhi hak itu.

Kedua, program pendidikan dasar gratis memang dari segi kuantitas dapat dikatakan berhasil karena angka partisipasi siswa SD hampir mencapai 100 persen, tetapi tidak dari segi kualitas. Badan Pusat Statistik (2010) mencatat, 13 persen siswa SD tidak menyelesaikan pendidikan. UNESCO di Global Monitoring Report 2011 juga melaporkan, 80 persen dari murid kelas IV SD di Indonesia masih memiliki kemampuan membaca di bawah standar internasional.

Ketiga, privatisasi dalam bidang pendidikan—walau diperlukan untuk menunjang kinerja pemerintah—telah memperlebar jurang pencapaian prestasi antara anak dari keluarga berkecukupan dan anak dari keluarga tak mampu. Salah satu contoh dapat dilihat dari dominasi siswa/siswi dari sekolah swasta yang meraih prestasi di ajang olimpiade ataupun kompetisi bergengsi lain.

Ketimpangan ini dapat terjadi karena sekolah swasta dengan uang sekolah yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah negeri mempunyai anggaran lebih besar untuk terus memperbarui infrastruktur dan fasilitasnya. Swasta juga memiliki daya tarik lebih kuat bagi calon guru dengan kompetensi yang tinggi. Selain gaji yang lebih tinggi, lingkungan kerja pun lebih baik.

Keempat, mengacu pada ketiga hal di atas, dapat dipastikan kesetaraan akan kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa/siswi di seluruh pelosok Indonesia sulit tercapai. Padahal, pendidikan seyogianya mempersiapkan siapa saja—baik yang terlahir di keluarga kaya maupun miskin—untuk bisa mendapatkan kesejahteraan hidup.

Akan tetapi, tren masyarakat dan dunia kerja yang menekankan pencapaian akademis membuat persekolahan yang bertumpu pada ekonomi pasar secara tidak langsung berperan memperuncing ketidaksetaraan ekonomi-sosial yang ada. Meminjam rumusan Pierre Bourdieu, anak dari keluarga kaya punya tendensi untuk bertahan di piramida sosial atas karena mereka ditunjang budaya keluarga yang sejalan dengan budaya dominan: materi dan jaringan yang tidak dimiliki anak yang terlahir di keluarga miskin.

Walaupun keempat hal di atas masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia, bukan berarti hal tersebut tidak dapat dibenahi. Bantuan pendidikan, seperti bantuan operasional sekolah dan anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari total APBN/APBD, adalah awal yang baik.

Momen refleksi

Namun, tanpa arah yang jelas, komitmen dan konsistensi dalam penerapannya dari semua pihak, masalah yang dipaparkan di atas tak akan pernah terselesaikan. Pendidikan multikultural yang bertujuan memberikan pendidikan bermutu bagi setiap anak—tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi—yang berlandaskan pada nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan bisa menjadi solusi yang cocok bagi negara multikultur ini.

Sebagai salah satu generasi muda bangsa, saya berharap pemerintah beserta para pemangku kepentingan pendidikan dapat menggunakan momen Hari Pendidikan Nasional kali ini untuk refleksi diri akan kinerja mereka. Evaluasi yang konstruktif juga perlu dilakukan untuk mendorong terjadinya perubahan yang sistematis. Dengan begitu, impian Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia akan keberhasilannya dalam mencetak generasi muda yang bermutu dan berkarakter baik dapat tercapai.

Penulis: Tracey Yani Harjatanaya Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Sumber berita baca
disini! Semoga bermanfaat.

Indonesia Banget – qflee

Read More

Orang Indonesia Cerdas Karena Memilih Black Berry

Boleh percaya atau tidak ternyata masyarakat Indonesia pengguna Black Berry terbesar. Research In Motion (RIM) menyanjung Indonesia sebagai pasar yang cerdas karena memilih BlackBerry sebagai smartphone pilihan utama ketimbang merek ponsel lain.

Dalam presentasinya di X2, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (24/4/2012), Hasting Singh, Managing Director RIM Asia Selatan, mengatakan bahwa BlackBerry telah menjadi brand nomor satu di Indonesia.

“Pengguna BlackBerry sudah lebih dari 77 juta di seluruh dunia. Di Indonesia, BlackBerry jadi brand nomor satu. Begitupun di Inggris, Timur Tengah, Afrika Selatan, dan Amerika Latin,” katanya.

Mengutip riset dari penelitian GfK, Hasting bilang, BlackBerry mencatatkan penjualan ponsel tertinggi di Indonesia. Ia juga mengatakan, berdasarkan badan riset Roy Morgan di kuartal ketiga 2011, level kepuasan pengguna BlackBerry di Indonesia tertinggi dibandingkan merek ponsel ternama lainnya.

“Masyarakat Indonesia cerdas karena memilih BlackBerry sebagai smartphone mereka,” kata Eka Anwar, Marketing Director RIM Indonesia.

Dari 77 juta pengguna BlackBerry di seluruh dunia, Indonesia diperkirakan memberi kontribusi sekitar 15% dengan jumlah pengguna hampir 10 juta. RIM bermitra dengan tujuh operator, Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Axis, Hutchison Tri, Smart Telecom, dan Bakrie Telecom. Sumber berita baca
disini! Semoga bermanfaat

—qflee

Read More

Switch to our mobile site