Ritual Adat Mattaungeng
Kekayaan budaya lokal tercermin dari sikap warga yang masih memegang teguh adat istiadat setempat. Sikap saling hormat-menghormati (sipakatau) dan lain sebagainya adalah salah satu contoh kekayaan budaya lokal warga Soppeng dan tentunya daerah-daerah lain yang masing mempertahankan kekayaan budaya lokal mereka. Begitupun dalam melaksanakan ritual-ritual adat betapa tercermin makna dan simbol kekayaan budaya lokal yang telah terpelihara secara turun temurun tersebut.
Ritual adat Mattaungeng (Genap Setahun) Lakelluaja adalah salah satu contohnya. Ritual adat ini dilakukan di Desa Tinco yang masuk wilayah Kecamatan Lalabata Kelurahan Ompo. Di Tinco, terdapat situs budaya yang bernama Lakelluaja, yang arti bebasnya tempat mencukur rambut. Alkisah ditempat ini, La Temmamala yang berjuluk Petta Pallaung Ruma’e mencukur rambutnya dan setelah itu naik ke langit. Adapun tempat melakukan ritual tersebut masih terpelihara dengan baik. Nama La Temmamala sendiri bisa diartikan dalam dua kata La Temma (selamat) Mala (menyelamatkan). Adapun arti penamaan ini dapat kita baca dalam kisah Sianre Bale (Masa Kekacauan). La Temma Mala juga bergelar Petta Pallaung Ruma’e dimana sejak kepemimpinannya mampu memberikan contoh bagaimana bercocok tanam kepada rakyatnya sehingga terbebas dari kelaparan.
Salah satu bukti bagaimana warga pada masa itu bercocok tanam adalah adanya peninggalan Batu Pananrang (batu ramalan) yang menggambarkan petunjuk tentang hari-hari yang baik untuk menanam padi. Selain itu, terdapat pula batu yang dipakai untuk bermain yakni Maggulaceng (congklak). Permainan kuno ini merupakan permaianan orang-orang dulu sambil menjaga sawahnya.
Ritual Adat Mattaungeng sendiri dilakukan setiap tahun oleh warga Tinco dengan persetujuan keluarga pewaris kerajaan Soppeng. Ritual ini dimulai dengan proses penyampaian (Matteddu) oleh perwakilan warga dalam hal ini diwakili oleh anak cucu Matoa Tinco ke pewaris kerajaan dan dilanjutkan dengan (Madduppa) atau undangan resmi dari pihak perwakilan warga kepada pewaris kerajaan. Adapun inti dari ritual tersebut adalah membawa Arajangnge (Pusaka Keramat) kerajaan Soppeng yang selama ini berada di Bola Ridi’e ke Lakelluaja. Disana berbagai ritual telah dipersiapkan untuk menyambut Arajangnge Soppeng diantaranya Sere Bissu (tarian kasim) dan Mappadendang (tarian khas suku Bugis).
Inilah salah satu kekayaan budaya yang seyogyanya kita lestarikan, dimana tergambar betapa masyarakat bersatu padu dalam satu ikatan emosional duduk bersama-sama (tudang-tudangeng) antara pemimpin dan rakyatnya membicarakan berbagai persoalan yang ada. Selain itu, ritual adat tersebut juga mencerminkan rasa syukur mereka terhadap penghidupan yang mereka jalani selama ini dan berharap agar penghidupan mereka ditahun yang akan datang dapat berjalan dengan aman dan lancar.
Sahabat bisa mendapatkan ebook gratis lengkap dengan foto, Klik Disini!
Password : qflee
-qflee
Read More
PNS dan Blogger, hobby menulis, fotografi. Blog ini berisi catatan serta pengalaman saya dalam menjalani hidup baik di dunia nyata maupun maya. Untuk menghubungi penulis silakan ke halaman kontak. Semoga bermanfaat adanya.
Komentar