Partai Kuat Melahirkan Sosok Pemimpin Ideal

Proses demokrasi dalam menentukan kepemimpinan baik lokal maupun nasional bisa melahirkan figur pemimpin yang kuat sehingga diharapkan dalam menjalankan kepemimpinannya senantiasa mendapat dukungan luas dari masyarakat. Pemimpin yang melalui proses seleksi tersebut mendapat mandat dari rakyat yang dipimpinnya.

20140729-201815-73095989.jpg
Lantas, kenapa masih banyak pemimpin yang lahir dari proses demokrasi tersebut masih saja belum bisa optimal dalam menjalankan pemerintahannya? Apakah mereka lahir karena “terpaksa” atau karena justru itulah konsekuensi dari pemilihan yang serba demokratis ini.

Fenomena seperti ini masih sering terjadi di beberapa daerah dan terjadi karena proses perekrutan awal yang memang “bermasalah”. Partai sebagai pintu masuk para calon pemimpin belumlah siap seratus persen. Dimana bisa dilihat dari SDM kader partai yang umumnya masih dibawah rata-rata.

Untuk kedepannya memang dibutuhkan partai yang tidak hanya kuat dibasis massa atau akar rumput melainkan juga kuat di struktural SDM partai. Ada beberapa partai yang memang sudah memiliki kriteria tersebut, ambillsh contoh, Partai Golkar, PKS dan PDIP serta partai lainnya yang sekarsng berlomba-lomba untuk memperkuat SDM-nya.

Kedepannya, dengan memiliki partai-partai yang kuat serta manajemen organisasi yang modern akan bisa merubah peformance para calon pemimpin masa depan.

Memang masih banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi hasil akhir dari proses demokrasi tersebut. Namun saya yakin sedikit demi sedikit partai-partai akan semakin bijak dalam memahami tugas dan tantangan kedepannya.

AZN

Demokrasi Islami

Bulan Ramadhan penuh berkah dan bulan ini juga banyak ujian dan cobaan. Di awal bulan puasa ini ada satu peristiwa yang mendorong saya untuk mengangkatnya sebagai topik tulisan kali ini. Hal ini sangat berkaitan dengan kebebasan dalam menyampaikan pendapat, demokrasi dan HAM dimana kita lihat topik tersebut sedikit banyaknya juga telah memberi banyak pengaruh dalam perjalanan bangsa ini. Banyak pihak yang mengatakan bahwa demokrasi kita sekarang sudah sangat jauh dari esensi serta hakikat aslinya. Bahkan kita bisa lihat betapa demokrasi yang selama ini kita agung-agungkan ternyata telah menjadi alat bagi sekelompok orang untuk mencapai tujuan dengan cara-cara tidak etis dan bermoral. Sangat disayangkan memang jika apa yang telah susah payah diraih yaitu kebebasan atau demokrasi justru berubah menjadi senjata makan tuan.

Tentu semua bertanya-tanya apa yang salah dengan demokrasi sebenarnya? Dalam demokrasi kebebasan menyampaikan pendapat dilindungi oleh aturan namun pada kenyataannya kebebasan yang telah diberikan telah disalahartikan. Kebebasan berarti bebas semaunya tanpa ada aturan. AKhirnya kita lihat sekarang, banyak orang yang asal ngomong, menfitnah sesukanya tanpa takut kena sanksi. Itulah mengapa ada anggapan mengatakan bahwa demokrasi kita telah melenceng dari arti sebenarnya dimana kebebasan yang diberikan harus bisa dipertanggung jawabkan. Jangan sampai dalam menuntut hak tetapi kewajiban kita abaikan dan malah mengorbankan hak orang lain.

Bulan puasa merupakan momentum untuk mereview kembali pemahaman kita tentang makna demokrasi yang sesungguhnya. Di bulan penuh rahmat ini kita kembali melatih diri kita untuk mengendalikan segala bentuk hawa nafsu. Bukan dengan saling tuding, lempar kesalahan dan fitnah memfitnah antar anak bangsa. Demokrasi yang dibungkus dengan nilai-nilai Islami selayaknya kita angkat kembali dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Sudah cukup banyak waktu, energi, biaya yang telah kita korbankan untuk merebut kebebasan di republik ini jadi sepatutnyalah kita semua untuk memaknai arti kebebasan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Saya tidak mau terlalu jauh masuk ke dalam terminologi demokrasi. Tetapi menurut hemat kami ada sesuatu dalam nilai-nilai Islam yang bisa kita ambil sebagai bahan pondasi dalam membangun konstruksi demokrasi menjadi lebih ideal. Salah satunya adalah makna berpuasa di bulan suci ramadhan ini. Bukankah di bulan suci ini kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk selalu menjaga sikap, prilaku, tindak tanduk dan segala macam perbuatan yang menjurus pada bentuk fitnah, pergunjingan, saling curiga sehingga nantinya kita kembali menjadi manusia fitrah (dilahirkan kembali). Untuk itulah demokrasi yang berlandaskan nilai-nilai Islami sejatinya akan membawa lahirnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang fitrah.

Untuk itu, munculnya beragam bias dari demokrasi yang selama ini telah mengusik berbagai tatanan dalam kehidupan bermasyarakat bisa tereleminasi dengan masuknya nilai-nilai Islam didalam demokrasi itu sendiri. Kita tidak perlu khawatir lagi dengan munculnya euforia demokrasi akibat salah kaprah melainkan kita akan melihat demokrasi sebagai sesuatu yang indah didalam khasanah kehidupan kita bersama.