Memori Meriam Bambu

Tuesday, August 23rd 2011. | Umum

Mendengar bunyi petasan dibulan Ramadhan membangkitkan kembali memori tentang meriam bambu yang pernah marak. Sungguh sangat mengasyikkan jika masuk bulan suci kami berlomba-lomba membuat meriam bambu. Ada yang bertugas khusus mencari bambu yang besar dan lurus dan ada juga yang mendapat bagian mencari minyak tanah. Saya tidak tahu apakah hilangnya dentuman meriam bambu ada hubungannya dengan semakin langka dan mahalnya minyak tanah sebagai bahan utama untuk meriam bambu. Kenyataan sekarang anak-anak malah lebih suka bermain petasan, kembang api dan mainan lainnya yang tentu lebih praktis dan efisien.

Bermain meriam bambu memang membutuhkan perhatian ekstra. Maklum pada saat itu kalau tidak hati-hati bisa ditangkap sama bapak polisi. Kalau sudah tertangkap ceritanya sungguh menegangkan coba bayangkan meriam bambu yang masih panas harus diangkat sendiri dan dibawa ke kantor polisi dengan berjalan kaki. Kalau anak-anak sekarang tentu sangat susah membayangkan dirinya tertangkap dan harus membawa meriam bambu yang panas tersebut. Tapi itulah kenyataannya, walau resikonya cukup besar tapi tak menyurutkan semangat untuk bermain meriam bambu.

Adalah sebuah kebanggaan jika suara meriam bambu yang kita punya menggelegar sepanjang malam hingga waktu sahur. Bahkan terkadang suasana seperti sedang dalam medan pertempuran sungguhan. Sangat menegangkan dan mengasyikkan, disaat itu pula kita tetap waspada jika ada aparat polisi yang mendekat maka siap-siaplah mengambil langkah seribu. Lokasinya pun tak tanggung-tanggung, karena suara yang besar maka tentunya kita memilih lokasi yang sangat strategis yakni di kuburan :) Iya lokasi tersebut dianggap paling strategis dan aman dari “gangguan” bapak polisi.

Tentang lokasi kuburan banyak juga menyimpan cerita-cerita lucu, entah betul atau tidak tapi jika mengingatnya terkadang membuat senyum sendiri. Biasanya waktu memulai “perang” meriam bambu adalah tengah malam hingga menjelang sahur. Dan untuk operasionalnya butuh dua orang dengan alat bantu lampu minyak tanah plus kain penutup. Satu orang bertugas menutup lubang meriam bambu dan membukanya jika sudah ada kode atau perintah dari orang satunya sekaligus menyulut api dilubang pemicu sehingga mengeluarkan suara dentuman layaknya sebuah meriam asli. Selesai satu kali dentuman maka asap dalam bambu tersebut harus dikosongkan kembali dengan cara meniupnya berulang-ulang kali. Ini dilakukan berungkali hingga bambu semakin panas dan mengeluarkan bunyi yang semakin keras pula.

Terkadang saking asyiknya, kita sudah tidak memperhatikan sekeliling dan bahkan tidak ada perasaan takut apapun walau berada tepat ditengah-tengah kuburan. Pernah ada teman yang iseng dengan cara mengendap-endap mendekat tetapi dengan pakaian serba putih seperti pocong, spontan semuanya lari terbirit-birit ternyata yang diwaspadai bapak polisi ternyata yang datang penghuni kuburannya…he he he

Itulah sepenggal memori meriam bambu yang beberapa tahun terakhir ini sudah tak pernah terdengar lagi suaranya. Hilang tergerus oleh pesatnya kemajuan dan tergantikan oleh mainan yang serba elektronik dan otomatis.

tags: , ,

satu komentar tentang “Memori Meriam Bambu”

  1. Sukses pak, kita sama – sama pengabdi negara ya ! Salam, jasa SEO murah

Leave a Reply